TMMD

Pos Kamling Barito Kuala Dilengkapi Televisi dan Antena oleh Peltu Wahyu, Tanda Kepedulian terhadap Warga

BARITO KUALA – Televisi dan antena mungkin sekadar terlihat sederhana, namun di balik benda-benda itu tersimpan kepedulian yang tidak biasa.

Di tengah kesibukan Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 Kodim 1005/Barito Kuala membangun Pos Kamling di Desa Tamban Bangun, Kecamatan Tamban, Peltu Wahyu menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus menunggu perintah, Sabtu (25/7).

Selaku Koordinator Pembangunan Pos Kamling, Peltu Wahyu rela merogoh kantong pribadinya untuk membelikan televisi sekaligus memasang antena sebagai fasilitas penunjang bagi warga yang nantinya menggunakan pos tersebut.

Bagi sebagian orang, televisi mungkin hanya sebuah fasilitas hiburan. Namun bagi warga yang melaksanakan ronda malam, keberadaannya menjadi teman di tengah panjangnya malam, sembari tetap menjalankan tanggung jawab menjaga keamanan lingkungan.

Peltu Wahyu tidak ingin Pos Kamling yang dibangun Satgas TMMD hanya berdiri sebagai sebuah bangunan.

Ia ingin pos tersebut benar-benar hidup.

Menjadi tempat warga berkumpul. Menjadi ruang kebersamaan. Menjadi tempat masyarakat menjalankan ronda dengan rasa nyaman.

“Kalau untuk kenyamanan masyarakat, kami tidak akan menghitung-hitung uang. Ini adalah bentuk nyata kehadiran dan kepedulian kami kepada masyarakat,” ungkap Peltu Wahyu.

Kalimat sederhana itu menjadi gambaran bagaimana semangat pengabdian prajurit TNI hadir dalam bentuk nyata.

Tidak hanya mengukur keberhasilan dari seberapa banyak bangunan yang berdiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat dirasakan oleh masyarakat.

Pos Kamling itu dibangun dengan tenaga, keringat, dan kebersamaan. Namun fasilitas yang melengkapinya lahir dari kepedulian pribadi seorang prajurit yang ingin memastikan masyarakat mendapatkan kenyamanan.

Di Desa Tamban Bangun, semangat TMMD kembali menunjukkan wajahnya.

Bahwa membangun desa bukan hanya soal semen, kayu, dan bangunan.

Kadang, pengabdian hadir dalam bentuk sebuah televisi yang dibeli dari uang pribadi.

Sebuah antena yang dipasang dengan tangan sendiri.

Dan sebuah ketulusan yang tidak banyak bicara, tetapi nyata dirasakan oleh masyarakat.

Karena bagi Peltu Wahyu, ketika prajurit hadir di tengah masyarakat, maka kehadiran itu harus benar-benar memberikan arti.(1005).

LEAVE A RESPONSE

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *